Andrea Pirlo Biographi

Andrea Pirlo (lahir di Flero, Lombardia, Italia, 19 Mei 1979; umur 36 tahun) adalah seorang pemain sepak bola Italia yang bermain untuk klub Liga Sepak Bola Utama Amerika Serikat, New York City FC dan tim nasional Italia, ia berposisi sebagai gelandang.

Perjalanan karier Pirlo di klub sepak bola: Brescia (1994-1998 dan 2001), Inter Milan (1998-1999 dan 2000), Reggina (1999-2000), A.C. Milan (2001-2011), Juventus (2011-2015),[3] New York City FC (2015-sekarang).

936700-01-02_1cbf993

Bersama A.C. Milan ia telah memenangkan dua gelar Liga Champions UEFA (2003 dan 2007), dua Piala Super Eropa (2003 dan 2007), dua titel Serie A (2004 dan 2011), satu Piala Dunia Antarklub FIFA (2007), dan Coppa Italia (2003). Setelah bergabung ke Juventus pada 2011, dia menambah tiga titel Serie A lagi pada musim 2012, 2013 dan 2014. Untuk kariernya di tim nasional Italia, ia telah bermain di ajang Euro 2004, Euro 2008 dan pada Euro 2012 ia membawa negaranya menjadi runner-up, ia juga memenangkan medali perunggu pada ajang Olimpiade tahun 2004, dan menjadi juara di Piala Dunia 2006. Selain itu, Pirlo juga telah tampil mewakili Gli Azzurri pada Piala Dunia 2010, Piala Konfederasi FIFA 2009 dan 2013.

Ia mulai dikenal di kalangan pesepak bola sejak ia bermain di tim nasional Italia U-21, bersama dengan Gennaro Gattuso, Nicola Ventola, dan Christian Abbiati. Walau pada awal kariernya ia adalah seorang gelandang menyerang tapi ia dapat beradaptasi menjadi seorang gelandang tengah bertahan seperti yang ia lakoni sampai saat ini di klubnya. Ia adalah seorang inspirator lapangan yang kreatif, di mana banyak gol-gol yang lahir dimulai dari pergerakan atau umpan-umpannya.

Untuk saat ini ia dihargai oleh banyak pihak sebagai salah satu gelandang terbaik, terutama di Serie A. Pirlo adalah seorang pemain dengan bakat yang hebat dalam hal kreativitas dan mengumpan bola, menjadikan ia seorang playmaker di klub yang dibelanya saat itu, A.C. Milan. Meskipun posisinya berada tepat di depan barisan pertahanan (gelandang bertahan), namun ia sering maju ke depan untuk memberi umpan-umpan kepada para penyerang. Selain itu, dia juga dikenal mempunyai tendangan bebas yang akurat. Sesama pemain di tim nasional Italia memberinya julukan l’architetto (“arsitek”), karena umpan-umpan panjangnya itu sering membuat peluang mencetak gol. Dalam beberapa tahun terakhir, fans Juventus juga menjuluki dia sebagai il Professore (“sang profesor”) dan Mozart, sebagai referensi untuk kemampuannya yang luar biasa seperti komposer Austria itu.

Tahun awal

Pada tahun 1995, pada usia 16, Pirlo melakukan debut untuk Brescia melawan Reggina. Setelah menembus tim utama Brescia, Pirlo telah dibeli oleh pelatih Internazionale Mircea Lucescu. Pirlo tidak mampu untuk masuk ke skuat pertama, bagaimanapun, dan Inter finis di posisi kedelapan pada musim Serie A 1998–99. Inter meminjamkan Pirlo ke Reggina untuk musim 1999-2000. Setelah musim yang mengesankan, ia kembali ke Inter, tapi sekali lagi tidak dapat masuk ke tim pertama, ia hanya membuat empat kali penampilan di liga dan menghabiskan paruh kedua musim itu dengan dipinjamkan ke mantan klubnya, Brescia.

Milan

Setelah tiga musim di Inter, Pirlo dijual ke tim rival, A.C. Milan seharga 33 juta lira Italia (€ 17.043.078) pada 30 Juni 2001. Biaya transfernya sebagian didanai oleh pergerakan Dražen Brnčić yang ditransfer dari Milan ke Inter untuk biaya yang tidak diungkapkan.

Di Milan ia membuat langkah besar dalam perkembangannya untuk menjadi pemain kelas dunia, dan salah satu deep-lying playmaker yang terbaik dan spesialis set-piece di dunia. Bersama Milan, ia memenangkan dua gelar Serie A dan merupakan bagian integral dari lini tengah Rossoneri; ia juga memenangkan dua Liga Champions pada 2003 dan 2007 (memberi assist untuk gol pertama Filippo Inzaghi) di bawah pelatih Carlo Ancelotti, dan juga mencapai final pada tahun 2005. Selama periode ini, Milan juga finis sebagai runner up di Serie A di musim 2004-05 dan musim 2005-06 (sebelum pengurangan 30 poin karena keterlibatan mereka dalam skandal Calciopoli 2006), serta menjadi runner-up Supercoppa Italiana 2003, di mana Pirlo mencetak gol penalti pada perpanjangan waktu dan pada babak adu penalti. Dalam turnamen Liga Champions 2004-05, Pirlo menjadi salah satu pengumpan gol kedua tertinggi dengan empat assist.[8] Ia juga memenangkan Coppa Italia, satu Supercoppa Italiana dan dua Piala Super UEFA selama waktunya dengan Milan antara 2003 dan 2007, serta gelar pertama mereka di Piala Dunia Antarklub FIFA pada tahun 2007. Insiden yang paling tidak bisa dilupakan adalah ketika ia gagal mencetak gol lewat titik penalti pada Final Liga Champions UEFA 2005, tendangannya diselamatkan oleh Jerzy Dudek, mereka kalah dalam adu penalti atas Liverpool, setelah sebelumnya Liverpool sukses mencetak tiga gol penyeimbang kedudukan di babak kedua waktu normal.[9] Padahal Pirlo sebelumnya, memberi assist bagi gol pembuka Paolo Maldini di laga final, setelah 50 detik pertandingan belangsung lewat umpan dari tendangan bebasnya.

Pirlo memulai kariernya sebagai gelandang bertahan sampai pelatih Carlo Mazzone memberinya peran sebagai playmaker di Brescia, bersama Roberto Baggio yang menjadi gelandang serang. Sebuah momen penting dalam kariernya di Brescia adalah ketika umpan panjangnya membantu gol penyeimbang dari Baggio saat melawan Juventus di Stadion delle Alpi, pada tahun 2001. Fatih Terim dan Carlo Ancelotti mengembangkan lebih lanjut peran ini di Milan, memungkinkan Pirlo bermain bersama gelandang serang berbakat lainnya, seperti Rivaldo, Rui Costa dan akhirnya Kaka, menggantikan kekosongan yang ditinggalkan oleh legenda Milan Demetrio Albertini di lini tengah. Dia membentuk kemitraan yang tangguh dengan Gennaro Gattuso (serta dengan Clarence Seedorf dan Massimo Ambrosini, yang juga mendukung peran playmaker nya) di lini tengah dan dia diberi julukan metronom untuk caranya mengatur ritme tim.[10] Pada bulan Oktober 2007, ia masuk nominasi penghargaan Pemain Terbaik Dunia FIFA 2007 dan Playmaker Terbaik Dunia 2007 tetapi dua penghargaan itu jatuh kepada rekan setimnya di Milan, Kaká. Setelah Kaká dan Ancelotti meninggalkan Milan pada musim panas tahun 2009, Chelsea menguji tekad Milan dengan melakukan penawaran $ 12 juta beserta Claudio Pizarro untuk ditukarkan dengan Pirlo. Klub menolak tawaran itu dan Pirlo dikatakan merenungkan permintaan transfer itu.[butuh rujukan] Pada 5 Agustus, pemilik klub Silvio Berlusconi memutuskan untuk tidak menjual Pirlo, yang mengatakan bahwa ia sangat gembira dan ingin mengakhiri kariernya di Milan. Pada 21 Oktober 2009, Pirlo mencetak gol penting dari jarak 30 meter dalam kemenangan 3-2 Milan atas Real Madrid. Milan menyelesaikan musim 2008-09 di peringkat ketiga dibawah tempat kedua Juventus dalam kompetisi Serie A.

Milan menjadi tuan rumah bagi Genoa pada 25 September 2010, Pirlo memberikan umpan bola atas kepada striker Zlatan Ibrahimović yang bebas untuk mencetak gol.[13] Pada 2 Oktober, Pirlo mencetak gol dari jarak 40 yard ketika melawan Parma untuk memberikan Milan kemenangan tandang pertama mereka di musim 2010-11.[14] Pada 14 Mei 2011, Pirlo tampil dalam pertandingan terakhirnya untuk Milan, datang sebagai pengganti dari Massimo Ambrosini, ia merayakan pencapaian titel klub dengan memenangkan laga 4-1 atas Cagliari.[15] Empat hari kemudian, Pirlo menegaskan bahwa ia akan meninggalkan Milan pada akhir musim 2010-11, setelah Milan tidak memperpanjang kontraknya.[16] Di musim terakhirnya bersama Milan, Pirlo tampil di liga hanya 17 kali, mencetak hanya satu gol dan tiga assist.

Juventus

Pada tahun 2011, Juventus mendatangkan Pirlo dengan status bebas transfer dan dikontrak hingga 2014. Debutnya bersama Juventus adalah dalam laga persahabatan melawan Sporting Clube de Portugal, namun mereka kalah 2-1. Pertandingan kompetitif pertamanya dengan La Vecchia Signora adalah pertandingan pembukaan Serie A melawan Parma di kandang dan ia memberikan dua assist, untuk Stephan Lichtsteiner dan Claudio Marchisio, dalam kemenangan 4-1.[19][20] Antonio Conte memainkannya bersama gelandang muda Marchisio dan pemain yang baru dikontrak Arturo Vidal di lini tengah yang terdiri dari tiga orang. Gol pertamanya untuk Juventus adalah tendangan bebas saat melawan Catania pada 18 Februari 2012 mengamankan kemenangan 3-1 untuk Bianconeri dan menempatkan klub kembali di bagian atas tabel Serie A, diatas mantan timnya, Milan.[21] Pada 18 Maret, Pirlo mencetak gol dalam kemenangan 5-0 atas Fiorentina dan setelah pertandingan, kemenangan itu didedikasikan untuk Fabrice Muamba, yang menderita serangan jantung saat bermain untuk Bolton Wanderers selama pertandingan melawan Tottenham Hotspur pada hari yang sama.

Pirlo menyelesaikan musim dengan memenangkan gelar Serie A 2011–12, setelah membantu Juventus untuk mengamankan kemenangan 2-0 atas Cagliari.[24] Dia membuat assist paling banyak di Serie A musim itu, dengan 13 assist. Pirlo mengirimkan 2.643 passing musim itu, dengan tingkat keberhasilan passing 87%, menyelesaikan 500 passing lebih banyak dari pemain lain di Serie A; satu-satunya pemain di dunia yang menyelesaikan passing lebih banyak dari dia musim itu adalah Xavi.[26] Karena penampilannya sepanjang musim, dan peran kunci dalam memimpin Juventus untuk merengkuh titel Serie A pertama mereka dalam sembilan tahun terakhir, ia masuk dalam “Serie A Team of the Year”, bersama dengan rekan gelandangnya di Juventus Arturo Vidal.[27] Pirlo dan Juventus juga runner up Coppa Italia akhir musim itu, mereka kalah dari Napoli.[28] Pada musim 2011-12, ia memimpin Juventus meraih gelar liga, Supercoppa Italiana dan mencapai final Coppa Italia, serta memimpin Italia ke final Euro 2012, dia menjadi nominasi dalam Penghargaan Pemain Terbaik UEFA di Eropa 2012, di mana ia berada dalam urutan ke-4. Dia juga terpilih menjadi bagian dari ESM 2012 Team of the Year dan UEFA Team of the Year 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *